Selasa, 18 Maret 2014

Terakhir.



Air hujan warnanya kelabu di pertemuan kita yang kian hari kian membisu.

Tetapi bodohnya masih ditunggu dalam seteru.

Perangai yang terbayang dalam benak manusia-manusia yang mengenalmu.

Sedikit yang kurasakan, namun menggunung yang kurindukan.

Aku mengenalmu begitu dalam. 

Sendu merindu


Pekat malam ini masih saja menyesakkan dada.
Hujan sore tadi tak sedikit pun mengobati hari-hari yang hampir mati.
Tak tega rasanya menyaksikan hatimu yang terluka,
di hampir seribu senja wahai ibunda.
Merindukan purnama pada malam bulan muda.
Tapi aku dan mereka tak lagi percaya,

Semoga berhasil dalam jalanmu sendiri.

tulisan



Luna membulat di malam
Saat surat cinta dari Tuhan dikumandangkan
Dipertemukan oleh kabut kemuning.
Cahaya keperakan, dalam seraut basa-basi
Di secangkir kerinduan.
Ah, terimakasih untuk waktumu yang seujung kuku untukku.

Malam ini. 

-untuk seorang gitaris

Gelombang



Kembali ke daratan!
Kemarin itu adalah saat terdekatku dengan Tuhan.
Dia yang punya kendali,
Aku hampir tak ada perlawanan di tengah gelombang.

Ingin memejamkan mata,
Agar tak kusadari prosesnya.
Kemudian saat mata terbuka, entah aku hidup atau mati saja.

Kapal kecil, dan lima belas manusia.
Diguncang-guncang.

Di tengah air pasang.

Rabu, 26 Februari 2014

entah



raut wajahmu masih seperti tetes-tetes embun
menggantung di pucuk rambut kami yang basah

tapi sayang,
warna kuning sudah menghilang
kelabu tertawa kemudian

Selasa, 25 Februari 2014

SURAT



Menanti reinkarnasi Visnu
Yang menapakkan kakinya di atas bumi
Lewat kidung yang kita nyanyikan,
Aku berharap semoga engkau tetap datang

Tangan-tangan surga,
Yang membelai rambutku dari nirvana
Tidak cukup menenteramkan mata, hati, dan jiwa
Karena kita…
Masih berjalan kea rah yang berbeda

Menunggumu adalah hal yang tidak menyenangkan
Tapi kalau senggang…
Aku menulis puisi di kala petang
Sambil menunggumu pulang,
saat mentari senja
dari balik rimba



Senin, 24 Februari 2014

HANCUR


Tak ada matahari hari ini
Cuma awan kelabu yang sedang mengelabuhi

Kemarau panjang yang panas,
Tapi mendung.

Belum ada hujan
Tapi aku sudah kedinginan.

Ini sudah malam,
Tapi tak ada bintang.

Sore ini juga,
Belum ada teh dalam cangkir kita;
Padahal aku sudah menunggu di depan telaga;
Meunggumu memainkan pianika;
Dalam serangkaian nada bidadara.


Kadang kita merasa kuat, bahkan terlalu kuat sampai pada satu titik kita merasa butuh perlindungan. Tapi terkadang orang-orang yang perlindungannya kita butuhkan, hanya bergerak pada urusan masing-masing yang sama sekali tidak menyangkut diri kita dan urgensinya tidak jelas. Jadilah kita hanya berharap, sedang kita sama sekali bukan prioritas.