Jumat, 17 April 2020

Putri Cantik dan Pelayan Buruk Rupa (cerpen berbahasa Indonesia)

Putri Cantik dan Pelayan Buruk Rupa


ilustrasi: Ahmadi, Pematang Siantar, 2019

18.30

Alissa melihat keluar jendela kampusnya. Ia berdiri di lantai lima, kelas paling ujung di bangunan itu. Seseorang mencoba menyorotnya dengan lampu senter murah pinggir jalan.

Sial! Sepertinya hanya tukang senter pinggir jalan yang sedang uji coba.
Katanya dalam hati.

Ia kembali duduk di kursi, dan meletakan telepon genggamnya di atas meja yang terhubung langsung ke kursi itu, kursi mahasiswa pada umunya. Ia membuka pesan dari Rian yang masih di jalan dan memintanya untuk menunggu, bola matanya berputar dan memindai sekeliling, hanya hitam, abu-abu, dan sedikit sinar lampu proyek bangunan sebelah yang tak sengaja menyelinap, menyingkap tubuh membiru yang telah terbujur kaku.

Aku tak bisa masuk ke gedung. Tak ada petugas penjaga, dan semua terkunci.
Pesan dari Rian kembali masuk.

Minggu, 01 Mei 2016

Bisnis Mulia Dunia Akhirot!

Tulisan ini saya buat saat masih lima belas hari jadi bini orang. YA, jadi bini orang. Dua puluh dua tahun, dan belon kelar kuliah. Padahal jurusan yang saya ambil juga bukan kedokteran, wong tinggal ngorek tanah atawa studi benda-benda yang pemiliknya udah modyar semua. Everyone gave shit to my face. Its okay wae lha.
Sebagai perempuan yang kini menyandang gelar sebagai bini orang, saya mesti concern(underlined) banget dengan yang namanya finansial, khususnya penguatan finansial keluarga yang salah satu caranya adalah dengan mencari usaha sampingan.
Malam ini saya menginap di rumah mertua. Karena perjalanan yang amat panjang dan melelahkan, akibat jauhnya rumah mertua yang ada di dusun di dalem gunung (bayangkan, dari alpamaret terdekat aja makan waktu satu jam!!!),  saya punya kesempatan banyak untuk berfikir. Yaaa lumayan lhaaa jadi bisa mikirin banyak hal sepanjang perjalanan, salah satunya mikir tentang usaha sampingan apa yang nantinya saya tekuni sembari nyuapin anak dan netei' suami-ups.

Dahi saya mengernyit dan pipi saya terasa ditampar ketika melewati sebuah bangunan yang setengah jadi. Beberapa tahun lalu lewat sini dan bangunannya juga masih setengah jadi. Hemmm...  Padahal di kanan kiri, dan -yang paling mengganggu- di tengah jalan banyak bapak-bapak berpeci dan emak-emak berkerudung menggoyang-goyang serokan (sumpah saya gak tau apa istilah resminya. Benda ini yang sering dibawa ayah saya untuk ngambil ikan di empang belakang rumah, U know kan maksudnya benda apa ini). Bapak-bapak lain yang tepat berada di depan bangunan setengah jadi sambil memegang mikrofon busuk berteriak-teriak (padahal kan elu udah megang mikrofon, nyed) "mohon bantuannya sodara-sodara untuk pembangunan Masjid Jami Al-Mukhlishin yang pembangunannya masih setengah jalan... "
What???  Masih setengah jalan? Beberapa tahun lalu juga masih setengah jalan...  Di situlah para pemirsa sekalian, saya menemukan bisnis terbaik dan sangat menjanjikan keuntungannya di negeri ini: bisnis pahala!

Bisnis pahala merupakan bisnis paling menguntungkan di Indonesia...  Terutama pahala pada agama mayoritas (yaiyalah, agama minoritas baru mau bikin bangunan aja udah dirobohin lagi keleus).  Berbagai macam pahala dan bisnis berlabel agama memang betul-betul menggiurkan di negeri ini. Semua orang berebut masuk surga, meskipun kalau diminta masuk duluan belum tentu ada  yang mau. Bisnis pahala yang dinilai syari' dan menjamin masuk surga memang diminati dan menjanjikan, dari mulai fesyen halal, make up halal, sedekah mlm, sampai yang kali ini saya minati: bisnis pembangunan masjid atau mushola!

Kata guru saya di MtsN, nabi Muhammad bilang, masjid ndak perlu bagus secara fisik. Kata dosen matkul perkembangan agama kristen saya di kampus, gereja itu ada beberapa jenis dan gak mesti berbentuk bangunan fisik. Mungkin konsep-konsep demikian memang pupus di masa sekarang ini. Orang-orang berlomba membuat bangunan megah yang saya juga tak tahu apa fungsinya. Buat kawan-kawan arkeolog jelas ratusan bahkan ribuan tahun mendatang fungsi bangunan ini baru muncul yaitu sebagai bahan riset gaya bangunan masa sekarang lalu ditambahkan dengan bumbu-bumbu interpretasi yang subhanallah menggemparkan dunia, yang bagi kita yang masih hidup sekarang ini yhaela...  Plis deh, renovasi ini kan cuma mengenai bisnis pahala.

Dahi saya mulai mengernyit dengan agak keras dan kedua alis saya mulai menyatu ketika debu-debu jalan beterbangan ke wajah bapak-ibu calon penghuni surga yang sedang mengumpulkan uang ke dalam serokan (sumpah saya ndak tahu apa istilahnya yang lebih bagus). Bayangkan, mereka kebanyakan berusia tiga puluh hingga lima puluh tahunan, usia yang terbilang sangat produktif. Tapi apa yang mereka lakukan di jalanan? Sungguh sangat mulia, mengingat sebagian teman-teman mereka sedang puyeng dengan perintah bos di kantornya, tapi mereka rela berpanas-panasan mengumpulkan uang umat di tengah jalan berdebu. Sungguh mulia, ketika teman-temannya mendapatkan gaji yang segitu-gitu aja dari kantornya, mereka menerima tiga puluh persen dari total pemasukan satu hari tiap kali jaga, plus kopi dan gorengan. Sungguh mulia. Ketika teman-teman sebayanya menerima keluhan pelanggannya di kantor, mereka justru rela menerima makian para pengguna jalan yang terganggu, bahkan seringkali hampir tertabrak saat kebagian tugas menyerok uang di tengah jalan. Malahan, ketika masyarakat marah-marah karena masjid dan mushala tak kunjung selesai pembangunannya, mereka tak ragu pasang badan dam argumen macam-macam. Sungguh mulia. Ketika para ustadz walustadzah teriak-teriak bahwa ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu, mereka menjadi tokoh revolusioner dengan mengumumkan nama pemberi sumbangan melalui toa masjid dan mushala tanpa diminta. Sungguh mulia, bahwa ketika masjid dan mushala jutaan tahun kemudian jadi, tak ada satu jamaahpun yang akan mengingat jasa mereka mengumpulkan uang untuk pembangunannya. Sungguh muliaBetul-betul bisnis yang mulia, syari',  untung berlipat ganda, dan tanpa dosa.


Baiklah, dengan ini saya memutuskan untuk membeli dan mewakafkan sebidang tanah di pinggir jalan; membangun sebagian kecil sebagai kamar dan toilet, agar anak-anak saya tetap bisa nonton tv dengan aman sambil mamaknya netekin bapaknya; serta sebagian besar lahan lain kuberi fondasi, dan tak lupa membeli kubah seng, agar para pengendara yang lewat tahu bahwa saya akan membuka bisnis akhirot; jangan lupa pula dengan satu set perlengkapan pengeras suara yang sember agar pengendara yang lewat dengan senang hati memberikan rezekinya untuk kami, ya...  Daripada kelamaan nanti budeg.

Setelah itu, akan saya perintahkan uwak, mamah, bibi, nini, dan semua keluarga untuk mengumpulkan uang di pinggir jalan. Agar keuntungan lebih banyak, pembagian hasil untuk mereka akan lebih kecil dari tiga puluh persen. Agar tidak ngoyo, target pembangunan akan saya perpanjang hingga anak-anak saya lulus kuliah dan menikah, serta sekeluarga besar naik haji minimal tiga kali. Hei! Jangan berfikir macam-macam, hal ini dilakukan agar kami mendulang pahala lebih banyak, agar kelak masuk surga!

Subhanallah, dengan melaksanan bisnis ini kami sekeluarga besar menjadi keluarhg yang dihorrrmatihhhh dan mati masuk surga.


Sungguh mulia.


Bisnis menjanjikan.

Senin, 28 Maret 2016

K(apital)amu

tangan kecilku mencoba menggapai
kamu...
yang besar dan tak terjamah.


aku abu,
kamu tungku.

aku hilang bersama debu.

MALING dan PELACUR

rok pendek dan baju setengah dada,
menggantung di tubuhnya.
senyum tipis megembang pada mukanya yang kusut:
debu jalan ditelannya begitu saja.


aku turun dari motor kumalku,
memegang pundak dan menyisipkan selembar kertas hijau di balik dadanya.
mukanya beringsut
tiga lembar kertas biru menyusul terselip di antara payudaranya:
senyum kembali kembali menghiasi wajahnya.

dengan lembut ia menarik tanganku,
perlahan kam masuk ke kamar penuh debu.

empat puluh lima menit kemudian,
dengan keringat yang menyegarkan
aku kembali ke pemukiman...

...menunggui beberapa rumah yang pemiliknya lelap dalam dengkuran
...atau pergi entah kemana

KAMU



kepadaku, ia mengaku sebagai cahaya
dan aku percaya
begitulah yang tampak padanya

kepadaku, ia mengaku sebagai cinta
dan aku percaya
begitulah yang tampak padanya

kepadaku, ia mengaku sebagai bahagia
dan aku percaya
begitulah yang tampak padanya

tapi padaku,
ia pergi tiba-tiba
membawa semua yang tampak itu bersamanya

padaku,
cahaya, cinta, dan bahagia
telentang kaku tanpa daya

padaku,
semua hadir sedia kala
dalam wajah yang lainnya.




Jamuresi, Maret 2016.

Sabtu, 19 Desember 2015

Hilangnya Bau Hujan

Bau hujan menemui ajalnya:
Aku tahu kau berbohong lagi.
Hujan yang dinanti-nanti hanya sebentar menyenangkan jiwa,
Sebentar kemudian kau berbohong lagi.

Tak ada tempat buatku berharap,
Agar bau hujan yang indah lebih lama bertahan hingga malam.
Karena busukmu menyeruak…
Menyeruak.
Menyeruak.

Bau hujan yang memenuhi imajinasiku bertahun-tahun,
Kini datang.
Tapi sebentar ia menghilang,
Karena busukmu menyeret kemarau kembali.

Rabu, 18 November 2015

Lelaki dengan Lilitan Selulit di Pinggangnya

lelaki dengan lilitan selulit di pinggangnya,
menjatuhkan kaki sambil merogoh isi ruang tamu,
mencengkeram buku dan sebatang rokok pada kedua tangannya sambil berkata:
negara kacau! anggota dewan tak punya moral!
lelaki dengan lilitan selulit di pinggangnya,
tatapannya melompong pada dinding kotor rumah singgahnya,
pada kilatan matanya yang masih terang,
jelas terlintas guratan lompatan hidupnya di masa lalu yang kejam.
lelaki dengan lilitan selulit di pinggangnya,
kini nafasnya bebas memburu dan suaranya bisa dengan lantang diteriakkan.
Ia kini bisa melangkah, karena bayang-bayang kekejian perlahan surut.
Ia tak lagi jadi momok pencarian para polisi.
taringnya yang ngeri, kini ia simpan dalam senyuman di atas kumis tipis dan goresan pensilnya yang selalu tajam dan mengerikan.
lelaki dengan lilitan selulit di pinggangnya,
kini tersenyum kepada gambar istri dan anaknya.
ia berkata,
"ah sayang, kali ini aku akan berjuang dengan lebih lembut dan sopan. tunggulah...".
untuk bang abner yang semasa mudanya berkawan dengan peluru polisi demi membela korban lapindo.
selulit black and white-mu itu begitu bersejarah, bang.